Filosofi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Sunday, May 15th, 2016 - Info Pendidikan

Filosofi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Pandangan orang tentang anak berbeda-beda sesuai dengan pengetahuan, pengalaman dan proses budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. Padangan seseorang tentang anak mempengaruhi perlakukan pendidikan terhadap anak itu sendiri. Para ahli telah memberikan perhatian yang serius terhadap anak usia dini dan pendidikannya. Mereka berasal dari berbagai budaya dan suku bangsa dan latar belakang disiplin ilmu. Sebagai akibat perbedaan latar belakang, mereka pun mengkaji dan melihat secara berbeda pula tentang anak usia dini dan pendidikan yang sesuai. Ada pandangan para ahli yang mengakui bahwa anak lahir sudah dibekali dengan potensi-potensi positif, anak memiliki kekuatan-kekutan positif untuk mengembangkan dirinya. Pandangan ini lebih melihat pendidikan terhadap anak sebagai upaya untuk mengembangkan potensi bawaannya. Padangan ahli yang menganggap anak adalah lahir tergantung dan tanpa potensi dan membutuhkan orang lain untuk menentukan arah perkembangannya. Anak perlu diajar dan dilatih suapaya dapat hidup dan menghidupi dirinya. Para ahli lain melihat anak berkembang dipegnauhi oleh potensi bawaannya dan membutuhkan interaksidinamis dengan orang dewasa untuk mengoptimalkan potensi bawaannya. Padangan yang mengakui bahwa anak makhluk yang dibekali potensi untuk mengembangkan diri merupakan pandangan humanistik, yaitu padangan yang mengakui anak sebagai makhluk yang dibekali potensi untuk berbuat baik, mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Padangan yang melihat anak sebagai individu yang tergantung dan tidak membawa apa-apa merupakan padangan behavioristik, yaitu anak adalah hasil pengaruh lingkungan dan berkembang tergantung pada lingkungannya. Bila lingkungan yang memelihara anak dengan baik, maka baiklah perkembangannya. Sebaliknya, bila anak berada pada lingkungan belajar yang jelek, maka akan kurang optimallah perkembangkannya. Padangan lain mengemukakan bahwa anak memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan akan lebih baik perkembangannya melalui proses interakasi dengan lingkugnan sosialnya. Padangan ini disebut padangan konstruktif terhadap anak.

Filosofi yang Berpegaruh pada Pendidikan Anak Usia Dini

Berbagai pemikiran pada tokoh pendidikan anak usia dini yang melahirkan filosofi pendidikan anak usia dini. Berikut ini akan dibahas beberapa tokoh pedidikkan anak dan pemikiran filosifis terhadap anak usia dini.

1. Filosofi Islam

Pemikir utama pendidikan anak usia dini adalah Nabi Muhammad S.A.W. Beliau merupakan tokoh pendidikan yang menganjurkan pendidikan harus dimulai sejak kecil. Beliaulah yang menganjurkan pendidikan sebagai proses “life long of educaton”. Sabba Rasulullah saw menebutkan: “Utlubul „ilma minal mahdi illal lahdi”, (tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat). Sabda ini memberikan petunjuk yang tegas tentang pendidikan semenjak usia dini. Sabda ini menekankan bahwa pendidikan merupakan proses yang kuntinuitas mulai anak dalam gendongan orangtua sampai manusia meninggal duni. Sabda ini memberi makna bahwa pendidikan itu penting dan tidak ada kata berhenti untuk belajar untuk memperoleh ilmu.

2. Ki Hajar Dewantara

Filosofi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)Dewantoro berpendapat bahwa anak-anak adalah mahluk hidup yang memiliki kodratnya masing-masing. Kaum pendidik hanya membantu menuntun kodratnya tersebut. Jika anak memilki kodrat yang tidak baik, maka tugas pendidik untuk membantunya menjadi baik. Jika anak sudah memiliki kodrat yang baik, maka ia akan lebih baik lagi jika dibantu melalui pendidikan. Kodrat dan lingkungan merupakan konvergensi yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.

Untuk rentang usia dalam pendidikan dibagi menjadi 3 masa, yaitu

  1. masa kanak-kanak/kinderperiod usia 1 – 7 tahun,
  2. masa pertumbuhan jiwa dan pikiran usia 7 – 14 tahun,
  3. masa soialperiod atau terbentuknya budi pekerti usia 14 – 21 tahun.

Sesuai dengan rentang usia tersebut, maka cara mendidik untuk masa kanak-kanak adalah dengan memberi contoh dan pembiasaan, untuk masa pertumbuhan jiwa dan pikiran dengan cara pengajaran dan perintah/paksaan/hukuman, dan untuk masa sosialperiod dengan cara laku dan pengalaman lahir – bathin.

Dewantoro juga perduli dengan anak usia dini, dimana pada tanggal 3 juli tahun 1922 di Yogjakarta beliau mendirikan ”Taman Siswa” diperuntukan bagi anak usia dibawah 7 tahun dengan nama ”Taman Anak” yang seterusnya dikenal dengan ”Taman Indria”. Perkembangan Taman Siswa berikutnya berdiri sekolah rendah (sekolah dasar) dan sekolah lanjutan pertama. Pembagian sekolah rendah disesuaikan dengan perkembangan anak menjadi dua bagian yaitu bagian ”Taman Anak” dari kelas I sampai dengan kelas III untuk anak berumur 7 sampai 9 tahun dan ”Taman Muda” dari kelas IV sampai dengan kelas VI untuk anak usia 10 sampai 12 tahun.

Taman Indria bersemboyan ”tut wuri handayani” artinya bahwa taman ini memberi kebebasan yang luas selama tidak membahayakan anak. Sistem yang dipakai adalah sistem ”among‟‟ dengan maksud memberi kemerdekaan, kesukarelaan, demokrasi, toleransi, ketertiban, kedamaian, kesesuaian dengan keadaan dan hindari perintah dan paksaan. Sistem ini mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya dan merdeka tenaganya serta dapat mencari pengetahuan sendiri. Filosofi ki Hajar Dewantoro yang dianut adalah asah, asih, dan asuh.

3. Martin Luther King (1483 – 1546)

Martin Luther menekankan pada anak agar menggunakan sekolah sebagai sarana untuk mengajar anak membaca. Ia juga percaya bahwa keluarga sebagai institusi yang paling penting merupakan peletak dasar pendidikan bagi anak. Tanpa pendidikan maka anak tidak akan mendapatkan bekal bagi hidupnya di masa yang akan datang. Karena itu pendidikan dan sekolah bukan hanya sekedar tempat anak bersosialisasi saja, tetapi juga memiliki makna sebagai sarana religius dan penegak moral.

4. John Amos Comenius (1592 – 1670)

Comeinus sangat percaya bahwa pendidikan harus dimulai sejak dini. Pendidikan yang berlangsung harus mengikuti perkembangan alam anak (kematangan) dan memberi kesempatan pada anak untuk menggunakan seluruh inderanya. Pembelajaran semacam itu merupakan pembelajaran yang paling baik, karena pengalaman-pengalaman sensorial yang dialami anak usia dini merupakan dasar semua pembelajaran. Oleh karena itu Comenius meyakini bahwa penggunaan buku yang ada ilustrasinya akan sangat membantu mengembangkan kemampua anak.

5. J H. Pestalozi (1747 – 1827)

Sangat menekankan pada pendidikan yang memperhatikan kematangan anak. Pendidikan harus didasarkan pada pengaruh “objek pembelajaran”, misalnya guru membawa benda sesungguhnya ketika mengajar.

Sangat menekankan pada pengembangan aspek sosial sehingga anak dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya dan mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna. Pendidikan sosial akan berkembang jika pendidikan dimulai dengan pendidikan keluarga yang baik. Peran utama pendidikan sangat ditekan pada ibu yang dapat memberikan sendi-sendi dalam pendidikan jasmani, budi pekerti dan agama.

Pandangan dasar Pestalozzi yang pertama menekankan pada pengamatan alam. Semua pengetahuan pada dasarnya bersumber dari pengamatan yang akan menimbulkan pengertian. Namun jika pengertian tersebut tanpa didasari pengamatan, maka akan menjadi sesuatu pengertian yang kosong (abstrak).

Pandangan kedua adalah menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak. Melalui keaktifan anak akan mampu mengolah kesan (hasil) pengamatan menjadi suatu pengetahuan. Keaktifan akan mendorong anak melakukan interaksi dengan lingkungannya.

Pandangan ketiga adalah pembelajaran pada anak harus berjalan secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak yang tumbuh dan berkembang secara bertahap. Pandangan dasar tersebut membawa konsekuensi bahwa bahan pengembangan yang diberikan pada anak pun harus disusun secara bertingkat, dimulai dari urutan bahan yang termudah sampai tersulit, dari bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.

6. Jean Jacques Rosseau (1712 – 1778)

Rousseau selalu menekankan pembelajaran yang dilakukan harus menggunakan pendekatan alam yang disebutnya pendekatan naturalistik. Pendidikan naturalistik membiarkan anak tumbuh tanpa intervensi dengan cara tidak membandingkan anak satu sama lain serta memberikan kebebasan anak untuk mengeksplorasi tanpa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sebagai seorang naturalist maka Rousseau meyakini agar orang dewasa tidak memberikan batasan-batasan pada anak, karena pengaruh batasan tersebut sangat besar, yaitu menghambat perkembangan anak. Kesiapan anak merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran.

7. Frederich Wilhelm Frobel (1782 – 1852)

Frobel merupakan salah seorang tokoh pendidikan anak yang banyak memberikan pengaruh dalam pemikiran baru (modern) dalam pengembangan anak usia dini, khususnya Taman Kanak-kanak. Walaupun ia banyak mempelajari visi kependidikan Pestalozzi, namun Frobel banyak memberikan „critical thinking‟ pada sekolah Pestalozzi terutama dari segi kurangnya keterpaduan model pelaksanaan pembelajaran. Frobel lahir tahun 1782 di Oberweiszbach (Jerman). Pola pendidikan yang demokratis yang dikembangkannya banyak menimbulkan konfrontasi dengan pihak pemerintah sehingga ia dianggap sebagai pemberontak.

Pada tahun 1840, untuk merealisasikan cita-citanya Frobel meresmikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama „Kindergarten‟. Walaupun banyak tantangan (sampai-sampai ditutup lembaga pendidikan tersebut) tidak membuat Frobel patah semangat sehingga ia berniat untuk mengembangkan cita-citanya tersebut di Amerika. Namun sebelum cita-cita tersebut ia meninggal tahun 1852.

Pandangan dasar dari Frobel pengembangan otoaktivitas merupakan prinsip utama. Anak didik harus didorong untuk aktif sehingga dapat melakukan berbagai kegiatan (pekerjaan) yang produktif.

Prinsip kedua adalah kebebasan atau suasana merdeka. Otoaktivitas anak akan tumbuh dan berkembang jika pada anak diberikan kesempatan dalam suasana bebas sehingga anak mampu berkembang sesuai potensinya masing-masing. Melalui suasana bebas atau merdeka, anak akan memperoleh kesempatan mengembangkan daya fantasi atau daya khayalnya, terutama daya cipta untuk membentuk sesuatu dengan kekuatan fantasi anak. Prinsip ketiga yang dikemukakan Frobel adalah pengamatan dan peragaan. Kegiatan ini dimaksudkan terutama dalam mengembangkan seluruh indra anak. Prinsip ini selaras dengan apa yang telah dikemukakan Pestalozzi terdahulu. Agar pembelajaran tidak verbalistik maka anak harus diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan terhadap berbagai kondisi lingkungan alam di sekitar. Pada lingkungan alam yang jauh atau sulit untuk diamati maka dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip peragaan. Pendidik dapat meragakan hal-hal yang tidak mungkin diamati anak secara langsung, baik berupa lingkungan fisik, sosial maupun keagamaan.

8. Maria Montessori (1870-1952)

Maria Montessori, seorang dokter wanita Italia pertama. Montessori lahir di Chiaravalle, sebuah propinsi kecil di Ancona, Italia, pada tahun 1870. Reputasinya di bidang pendidikan anak dimulai setelah Montessori lulus dari sekolah kedokteran. Dia bekerja di sebuah klinik psikiatri Universitas Roma. Pekerjaannya tersebut menyebabkan dia berinteraksi langsung dengan masalah cacat mental.

Pemikiran Montessori yang berkaitan dengan anak cacat mental akhirnya ditindaklanjuti dengan pendirian Casai dei Bambini atau Children‟s House di daerah-daerah kumuh di Roma tahun 1907. Lingkungan diatur sedemikian rupa sehingga dapat digunakan oleh anak-anak cacat mental di bawah lima tahun.

Ada prinsip-prinsip yang diyakini oleh Maria Montessori yaitu :

  1. Menghargai anak
    Setiap anak itu unik sehingga pendidik dalam memberikan pelayanan harus secara individual. Anak memiliki kemampuan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu pendidik harus menghargai anak sebagai individu yang memiliki kemampuan yang luar biasa.
  2. Absorbent Mind ( pemikiran yang cepat menyerap)
    Informasi yang masuk melalui indera anak dengan cepat terserap ke dalam otak. Daya serap otak anak dapat diibaratkan seperti sebuah sponse yang cepat menyerap air. Untuk itu pendidik hendaknya jangan salah dalam memberikan konsep-konsep pada anak.
  3. “Sensitive periods” (masa peka). Masa peka dapat digambarkan sebagai sebuah pembawaan atau potensi yang akan berkembang sangat pesat pada waktu-waktu tertentu. Potensi ini akan mati dan tidak akan muncul lagi apabila tidak diberikan kesempatan untuk berkembang, tepat pada waktunya.
  4. Lingkungan yang disiapkan
    1. Pendidik hendaknya menyiapkan suatu lingkungan yang dapat memunculkan keinginan anak untuk mempelajari banyak hal. Lingkungan yang disiapkan harus dirancang untuk menfasilitasi kebutuhan dan minat anak, sehingga pendidik harus meyediakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan dan minat anak.
    2. Lingkungan ditata dengan berbagai setting sehingga anak tidak bergantung dengan orang dewasa. Lingkungan yang disiapkan ini membuat anak bebas untuk bergerak, bermain dan bekerja.
  5. Pendidikan diri sendiri
    Dengan lingkungan yang disiapkan oleh pendidik, memungkinkan anak dapat bereksplorasi, berekspresi, mencipta tanpa dibantu olah orang dewasa. Hasil yang diperoleh anak karena karyanya sendiri jauh luar biasa dan menakjubkan dibanding jika mereka dibantu. Karya yang dihasilkan beragam dan unik sedangkan yang dibantu hasil karya anak seragam dan sama. Jadi sebenarnya anak dapat belajar sendiri jika kita memberi fasilitas sesuai dengan potensi dan minatnya.

9. John Locke (1632-1704)

John Locke adalah pencetus teori “Tabula Rasa” yang menganggap bahwa anak sebagai kertas putih atau tablet yang kosong. Anak hidup di dalam lingkungannya yang sangat berpengaruh dalam proses pembentukan seorang anak. Melalui pengalamanpengalaman yang dilalui anak bersama lingkungannya, akan menentukan karakter anak. Dia sangat mempercayai bahwa untuk mendapatkan pembelajaran dari lingkungannya, maka satu-satunya cara bagi anak adalah mendapatkan pelatihan-pelatihan sensoris.

Semoga uraian singkat tentang filosofi pendidikan anak usia dini (PAUD) diatas menambah wawasan kita dalam dunia pendidikan anak usia dini (PAUD).

Pustaka Materi adalah website dengan informasi pendidikan untuk siswa dan guru dalam bentuk materi pelajaran, Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat didownload gratis, soal latihan, soal ujian dan peraturan tentang pendidikan.

Anda dapat menghubungi atau berpartisipasi dengan kami
Pustaka Materi