Pengolahan Hasil Ternak SMK Peternakan Kelas 10

Sunday, September 20th, 2015 - Kelas 10 SMK, SMK A.P. Ternak

Pengolahan hasil ternak bertujuan untuk mengawetkan produk agar tahan lama, memudahkan penyimpanan, meningkatkan nilai nutrisi, meningkatkan nilai jual dll. Hasil ternak dapat diolah menjadi produk makanan lainnya.

Pengolahan Hasil Ternak

Makanan olahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Daging

Daging diolah menjadi produk sosis, corned, nugget, dendeng, abon, burger dll. Pada pengolahan tersebut ditambahkan bahan pengawet sehingga produknya menjadi tahan lama, tidak cepat rusak. Beberapa contoh gambar hasil olehan daging tertera pada gambar berikut.

Pengolahan Hasil Ternak SMK Peternakan Kelas 10

a. Sosis

Sosis merupakan makanan asing yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena rasanya enak.  Namun, di balik kenikmatan makanan yang kaya akan zat gizi ini, terkandung lemak dan kolesterol tinggi yang bisa mengganggu kesehatan. Untuk itu, hati-hati mengkonsumsi sosis.

Makanan ini dibuat dari daging atau ikan yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu, dimasukkan ke dalam selonsong berbentuk bulat panjang simetris, baik yang terbuat dari usus hewan maupun pembungkus buatan (casing). Sosis juga dikenal berdasarkan nama kota atau daerah yang memproduksi, seperti berliner (Berlin), braunscheiger (Braunshweig), genoa salami (Genoa), dan lain-lain.

Sosis merupakan salah satu produk olahan daging yang sangat digemari masyarakat Indonesia sejak tahun 1980-an. Istilah sosis berasal dari bahasa Latin, yaitu salsus, yang artinya garam. Hal ini merujuk pada artian potongan atau hancuran daging yang diawetkan dengan penggaraman.

Sosis merupakan produk olahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi.  Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya.  Produk olahan sosis kaya energi, dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat.  Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan.

Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen. Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis.

b. Kornet

Corned beef atau daging kornet semakin menjadi pilihan bagi banyak orang.  Produk olahan daging ini juga cepat dan mudah di olah.  Meski nilai gizinya cukup baik, perlu kecermatan dalam memilih, supaya jangan mengkonsumsi makanan yang sudah rusak.

Salah satu kelemahan daging segar adalah daya simpannya yang rendah pada suhu kamar, sehingga harus di simpan pada suhu dingin atau suhu beku. Kelemahan lainnya adalah tidak praktis dalam penggunaannya, terutama bagi mereka yang selalu sibuk dengan kegiatan di luar rumah. Untuk itu diperlukan kehadiran produk olahan daging yang bisa diolah menjadi berbagai hidangan hanya dalam waktu singkat.

Kata corned berasal dari bahasa Inggris yang berarti di awetkan dengan garam. Dari kata tersebut lahirlah istilah corned beef yaitu daging sapi yang di awetkan dengan penambahan garam dan di kemas dengan kaleng. Dalam bahasa Indonesia, kata corned beef diadopsi menjadi daging kornet.

Tujuan pembuatan daging kornet adalah untuk memperoleh produk daging yang berwarna merah, meningkatkan daya awet dan daya terima produk, serta menambah keragaman produk olahan daging. Kornet kalengan dapat disimpan pada suhu kamar dengan masa simpan sekitar dua tahun. Daging kornet dapat dihidangkan sebagai campuran perkedel, telur dadar, mi rebus, pengisi roti, serta makanan lainnya.

2. Susu

Susu dapat diolah menjadi susu kental manis, susu bubuk, keju, cream, ice cream, yoghurt, dll. Masing-masing produk dijelaskan sebagai berikut:

a. Susu Kental Manis  (Sweetened Condensed Milk)

Susu kental manis merupakan susu yang sudah di pasteurisasi kemudian di tambahkan gula. Susu tersebut tidak steril tetapi pertumbuhan bakteri dihambat oleh gula. Gula yang ditambahkan jumlahnya 63% dari produk akhir.

b. Susu Bubuk

Susu bubuk berasal susu segar baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya pengeringan dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller drayer. Umur simpan susu bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat di kelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk prowder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk prowder) (SNI 01-2970-1999)

Susu bubuk paling populer di Indonesia karena praktis dan penyimpanan tidak memerlukan peralatan khusus, cukup disimpan pada suhu ruangan. Untuk mengganti vitamin selama proses pembuatan susu bubuk. Biasanya pabrikan menambahkan vitamin dan mineral pada susu bubuk.

c. Keju

Keju diambil dari bahasa Portugis queijo adalah makanan padat yang dibuat dari susu sapi, kambing, domba, dan mamalia lainnya. Keju dibentuk dari susu dengan menghilangkan kandungan airnya dengan menggunakan kombinasi rennet dan pengasaman. Bakteri juga digunakan pada pengasaman susu untuk menambahkan tekstur dan rasa pada keju. Pembuatan keju tertentu juga menggunakan jamur.

Ada ratusan jenis keju yang diproduksi di seluruh dunia. Keju memiliki gaya dan rasa yang berbeda-beda, tergantung susu yang digunakan, jenis bakteri atau jamur yang dipakai, serta lama fermentasi atau penuaan. Faktor lain misalnya jenis makanan yang dikonsumsi oleh mamalia penghasil susu dan proses pemanasan susu.

Keju berharga karena umurnya yang tahan lama, serta kandungan lemak, protein, kalsium, and fosforusnya yang tinggi.  Keju lebih mudah kecil dan lebih tahan lama dari susu.

d. Butter/Mentega

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3744-1995), mentega adalah produk makanan berbentuk padat lunak yang dibuat dari lemak atau krim susu atau campurannya, dengan atau tanpa penambahan garam (NaCl) atau bahan lain yang diizinkan, serta minimal mengandung 80% lemak susu.

Selain garam dapur, ke dalam mentega juga ditambahkan vitamin, zat pewarna, dan bahan pengawet (misalnya sodium benzoat).  Emulsi pada mentega merupakan campuran 18% air yang terdispersi pada 80% lemak, dengan sejumlah kecil protein yang bertindak sebagai zat pengemulsi.

Mentega dapat dibuat dari lemak susu (terutama lemak susu sapi) yang manis (sweet cream) atau asam.  Mentega dari lemak susu yang asam mempunyai cita rasa lebih kuat.

Lemak susu dapat dibiarkan menjadi asam secara spontan atau melalui penambahan inokulum murni bakteri asam laktat (proses fermentasi). Mulamula lemak susu dinetralkan dengan garam karbonat, kemudian di pasteurisasi dan di inokulasi dengan bakteri yang dapat menghasilkan asam laktat selama proses fermentasi.

Bila perlu, ditambahkan zat pewarna ke dalam lemak susu, umumnya berupa karoten, yaitu zat pewarna alamiah yang merupakan sumber vitamin A.

Lemak memiliki komposisi terbesar dalam mentega jika di bandingkan dengan protein dan karbohidrat. Kandungan protein dan karbohidrat pada mentega dan margarin sangat rendah, yaitu sekitar 0,4-0,8 gram per 100 gram. Lemak mentega berasal dari lemak susu hewan, dikenal sebagai butter fat.  Mentega mengandung sejumlah asam butirat, asam laurat, dan asam linoleat. Asam butirat dapat digunakan oleh usus besar sebagai sumber energi, juga dapat berperan sebagai senyawa antikarsinogenik (antikanker). Hasil olahan susu

Asam laurat merupakan asam lemak berantai sedang yang memiliki potensi sebagai antimikroba dan antifungi.  Asam linoleat pada mentega dapat memberikan perlindungan terhadap serangan kanker. Meski sedikit, mentega juga mengandung asam lemak omega 3 dan omega 6.  Selain itu, mentega mengandung glycospingolipid, yaitu suatu asam lemak yang dapat mencegah infeksi saluran pencernaan, terutama pada anak-anak dan orangtua. Karena terbuat dari krim susu, mentega mengandung kolesterol. Kadar kolesterol tinggi tidak selalu berdampak buruk bagi kesehatan.  Bahkan sebaliknya, kolesterol memegang peran penting dalam fungsi organ tubuh.

Kolesterol berguna untuk menyusun empedu darah, jaringan otak, serat saraf, hati, ginjal, dan kelenjar adrenalin. Kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan hormon steroid, yaitu progestron, estrogen, testosteron, dan kortisol. Mentega juga mengandung semua vitamin larut lemak lainnya, yaitu vitamin D, E, dan K. Vitamin A bersumber dari betakarotenoid atau pigmen karoten lainnya yang sengaja ditambahkan sebagai pewarna kuning.

Kadar vitamin A yang diharuskan pada mentega adalah 1.4003.500 IU per 100 gram, sedangkan kadar vitamin D 250350 IU per 100 gram. Usaha-usaha pengolahan tersebut banyak menyerap tenaga kerja.

Berdasarkan satistik pertanian jumlah tenaga kerja yang bekerja pada sektor pengolahan pada tahun 2006 sebesar 152.815 orang.  Contoh produk olahan susu tertera pada gambar berikut

Produk Olahan Susu

e.  Yoghurt

Yoghurt adalah produk yang diperoleh dari susu yang telah di pasteurisasi kemudian di fermentasi dengan bakteri tertentu sampai diperoleh keasaman, bau dan rasa yang khas, dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang di izinkan. Bakteri yang di gunakan untuk kultur starter tidak lebih dari 5 jenis saja. Yang termasuk dalam jenis bakteri asam laktat dan digunakan sebagai kultur starter adalah Enterococcus, Lactobacillus, Lactococcus, Leuconostoc dan Streptococcus.

f. Susu Pasteurisasi

Susu segar merupakan cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun (SNI 01-3141-1998).  Dalam prakteknya sangat kecil peluang kita untuk mengonsumsi susu segar definisi SNI tersebut di atas. Umumnya susu yang di konsumsi masyarakat adalah susu olahan baik dalam bentuk cair (susu pasteurisasi, susu UHT) maupun susu bubuk.  Susu pasteurisasi merupakan susu yang di beri perlakuan panas sekitar 63º-72º Celcius selama 15 detik yang bertujuan untuk membunuh bakteri  patogen. Susu pasteurisasi harus di simpan pada suhu rendah (5º-6º Celcius) dan memiliki umur simpan hanya sekitar 14 hari.

Susu UHT (ultra high temperature) merupakan susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-145º Celcius) selama 2-5 detik (Amanatidis, 2002). Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora.  Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnya.

3. Sumber Pupuk Organik

Kotoran sapi (feces dan urin) serta sisa hijauan pakan ternak dapat di manfaatkan untuk sumber pupuk organik.  Pupuk organik di perlukan untuk memperbaiki struktur tanah dan penyedia unsur hara bagi tanaman. Harga pupuk curah merah berkisar antara Rp 1000-3000 per kg, namun demikian
dengan dikemas baik dapat dijual mahal , untuk digunakan sebagai pupuk tanaman hias. Harga kemasan 2 kg dapat mencapai harga Rp10,000 s.d Rp15.000. dengan demikian kotoran sapi dan limbah pakan dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi peternak.

Secara prinsip pengolahan hasil ternak selain mengawetkan juga memberi nilai tambah pada produk hasil ternak tersebut.

Pustaka Materi adalah website dengan informasi pendidikan untuk siswa dan guru dalam bentuk materi pelajaran, Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat didownload gratis, soal latihan, soal ujian dan peraturan tentang pendidikan.

Anda dapat menghubungi atau berpartisipasi dengan kami
Pustaka Materi