Rangkuman Materi Pelajaran Geografi Kelas 12 SMA

Monday, September 26th, 2016 - Geografi, Kelas 12 SMA

Rangkuman materi pelajaran Geografi kelas 12 SMA pada halaman ini disusun berdasarkan buku pelajaran Geografi untuk kelas 12 SMA yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Berikut rangkuman materi pelajaran Geografi kelas 12 SMA secara lengkap.Rangkuman Materi Pelajaran Geografi Kelas 12 SMA,ringkasan geografi kelas 12,rangkuman geografi kelas 12 semester 1,rangkuman geografi kelas 12 ips,ringkasan materi geografi kelas 12 ips,rangkuman geografi kelas xii ips semester 1,ringkasan materi un geografi kelas 12,rangkuman geografi kelas 10-12,ringkasan geografi kelas xii,rangkuman geografi kelas xii semester 2,rangkuman materi geografi kelas 12 semester 1,rangkuman materi geografi kelas xii,rangkuman materi geografi kelas xii ips,ringkasan materi geografi kelas xii ips,rangkuman materi geografi kelas xii ips semester 1,ringkasan materi geografi kelas 12 semester 1,ringkasan materi geografi kelas 12 sma,ringkasan materi geografi kelas xii,ringkasan materi geografi kelas xii semester 2,ringkasan materi geografi kelas 10 11 12,ringkasan materi geografi kelas xii semester 1 dan 2,rangkuman materi geografi kelas 12 semester 2,rangkuman materi geografi kelas xii semester 2,rangkuman geografi kelas x sampai xii,rangkuman geografi kelas 12 semester 2,ringkasan materi geografi kelas x-xii,rangkuman geografi kelas x-xii,ringkasan geografi kelas x xi xii,rangkuman geografi kelas 10 11 12

Rangkuman Materi Pelajaran Geografi Kelas 12 SMA

Bab 1 Teknik Dasar Pemetaan

Peta yang baik harus dilengkapi dengan komponen-komponennya seperti judul peta, skala, legenda, tanda arah atau orientasi, simbol, peta inzet, serta sumber dan tahun pembuatan peta.

Langkah-langkah prinsip pokok dalam pembuatan peta yaitu: 1) menentukan daerah yang akan kamu petakan; 2) membuat peta dasar (base map) yaitu peta yang belum diberi simbol; 3) mencari dan mengklarifikasikan (menggolongkan) data sesuai dengan kebutuhan; 4) membuat simbol-simbol yang mewakili data; 5) menempatkan simbol pada peta dasar; 6) membuat legenda (keterangan), dan 7) melengkapi peta dengan tulisan (lettering) secara baik dan benar.

Untuk memperkecil distorsi pemindahan bentuk bumi yang bulat pada bidang datar, digunakan teknik proyeksi. Terdapat beberapa jenis proyeksi peta, yaitu proyeksi silinder, proyeksi kerucut, dan proyeksi azimuthal.

Pemetaan sederhana dapat dilakukan pengukuran dan pemetaan sekolah dengan menggunakan alat kompas, meteran, dan busur. Walau demikian, pembuatan peta sederhana memiliki prinsip yang sama jika melakukan pengukuran dengan teodolit.

Bab 2 Analisis Lokasi Industri Dan Pertanian Melalui Peta

Klasifikasi industri berdasarkan SK Mentri Perindustrian No. 19/M/I/1986 dapat dibedakan menjadi industri kimia dasar, industri mesin logam dasar dan elektronika, aneka industri, industri kecil, dan industri pariwisata.

Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi industri, di antaranya bahan mentah, modal, tenaga kerja, sumber energi, transportasi, pasar, teknologi yang digunakan, perangkat hukum, dan kondisi lingkungan.

Faktor penyebab terjadinya aglomerasi industri antara lain: terkonsentrasinya beberapa faktor produksi yang dibutuhkan, kesamaan lokasi usaha, adanya wilayah pusat pertumbuhan industri, adanya kesamaan kebutuhan sarana, prasarana, dan adanya kerja sama yang saling membutuhkan.

Beberapa alasan yang menyebabkan berkembangkan sistem transportasi, di antaranya sumber daya alam yang tersedia tidak merata, jumlah dan penyebaran penduduk tidak sama, adanya perbedaan kualitas dan kemampuan masyarakat, dan adanya perbedaan kemampuan mengelola lahan.

Keberadaan alat transportasi tidak dapat lepas dari pengaruh oleh berbagai faktor geografi, di antaranya: kondisi cuaca, kondisi batuan, keadaan morfologi, faktor sosial, kondisi ekonomi, keadaan politik dan kebijakan pemerintah, dan teknologi yang dimiliki. Hal ini akan berkaitan dengan besar-kecilnya biaya transport yang harus dikeluarkan untuk mengangkut keperluan industri.

Untuk dapat menganalisis lokasi industri dan pertanian pada peta, maka tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kedua kegiatan ekonomi tersebut.

Bab 3 Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh dapat diartikan sebagai ilmu atau tehnik untuk mendapatkan informasi tentang objek, wilayah, atau gejala dengan cara menganalisis data-data yang diperoleh dari suatu alat, tanpa kontak langsung dengan objek, wilayah, atau gejala tersebut.

Produk penginderaan jauh ialah citra. Citra merupakan gambaran yang tampak dari suatu objek yang diamati sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat pemantau atau sensor.

Citra dapat berupa foto udara (citra foto) dan citra nonfoto. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa jenis berdasarkan hal-hal berikut:

  1. Spektrum elektromagnetik: foto ultraviolet, foto ortokromatik, foto pankromatik, foto inframerah asli, dan foto inframerah modifikasi;
  2. Sumbu kamera: foto vertikal, foto agak condong, dan foto sangat condong;
  3. Jumlah dan jenis kamera: foto tunggal dan foto jamak;
  4. Warna: foto warna semu dan foto warna asli; dan
  5. Sistem wahana: foto udara dan foto satelit.

Adapun citra non foto dibedakan atas beberapa jenis berdasarkan hal-hal berikut:

  1. Spektrum elektromagnetik: citra inframerah termal, citra radar, dan citra gelombang mikro;
  2. Sensor: citra tunggal dan citra multispektral;
  3. Wahana: citra dirgantara dan citra satelit.

Jenis satelit berdasarkan spektrum elektromagnetik dan sensornya, yaitu satelit sumber daya, satelit cuaca, dan satelit militer.

Unsur-unsur interpretasi foto udara yaitu: rona, ukuran, bentuk, pola, tekstur, tinggi, bayangan, situs, dan asosiasi dari objek yang sedang diamati.

Bab 4 Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis merupakan sistem informasi yang berkenaan dengan keruangan suatu daerah atau wilayah. Informasi tersebut berupa lembaran peta atau tampilan layar komputer, yang diperoleh melalui pendataan di lapangan kemudian diolah menjadi sebuah informasi spasial. Hasilnya bisa disajikan dengan menggunakan teknologi komputer atau secara konvensional.

SIG yang berbasis komputer terdiri atas data, sistem komputer (hardware dan software), dan manusia (pelaksana). Software atau perangkat lunak yang biasa digunakan dalam proses SIG merupakan paket program aplikasi pemetaan seperti AutoCad, ARC/INFO, ILWIS, MapInfo, IDRISI, ArcView, ER Mapper, ERDAS, Spans GIS, MGE.

Tahapan SIG berbasis komputer dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi: mengkaji kebutuhan, membuat rancangan peta, merancang basis data, dan menentukan prosedur kerja; tahap persiapan, meliputi: tahap digitasi peta, editing, konversi, anotasi, labelling; dan tahap analisis, meliputi: buffering, pelaporan, networking.

SIG yang dibuat secara konvensional biasanya berpegang pada teknik kartografis atau teknik pemetaan. Penyajian data spasial dilakukan dengan menggambar peta pada selembar kertas atau bidang datar dengan menggunakan peralatan kartografis, seperti rapido, lettering set, pensil, dan alat gambar lainnya.

SIG dengan kemampuan yang dimilikinya dapat menentukan suatu lokasi usaha atau perencanaan dalam pembangunan. Beberapa manfaat SIG dalam geografi, yaitu: untuk manajemen pemanfaatan lahan dan tata ruang, penentuan lokasi pusat pertumbuhan, inventarisasi sumber daya alam, pengawasan daerah bencana, penentuan lokasi usaha, dan lain-lain.

Bab 5 Pola Keruangan Desa Dan Kota

Desa merupakan suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk, sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintah terendah langsung di bawah camat dan mempunyai hak otonomi dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Syarat sebuah wilayah disebut desa yaitu memiliki wilayah pemerintahan; ada penduduk yang menghuninya; memiliki unsur-unsur pemerintahan; berada di bawah kekuasaan camat; memiliki aturan dan kebiasaan-kebiasaan pergaulan sendiri.

Potensi desa terdiri atas penduduk, wilayah, dan tata kehidupan yang merupakan satu kesatuan hidup. Potensi desa tersebut sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya sebagai desa kota.

Struktur ruang di desa ditandai dengan pola pemanfaatan lahannya, yang sebagian besar untuk pertanian (ekonomi) dan sarana sosial. Adapun struktur ruang di kota sebagian besar pemanfaatan lahannya untuk kegiatan sektor industri dan jasa. Beberapa teori yang mengkaji struktur ruang kota seperti Teori Konsentris, Teori Homer Hoyt, dan Teori Inti Berganda.

Pola dan kekuatan interaksi antarwilayah sangat dipengaruhi oleh keadaan alam dan sosial serta kemudahan-kemudahan yang dapat mempercepat proses hubungan antarwilayah tersebut.

Bab 6 Konsep Wilayah Dan Pewilayahan

Wilayah adalah kesatuan daerah yang memiliki keseragaman gejala atau fenomena baik berupa fisikal, sosial, atau budaya sehingga dapat dibedakan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Wilayah di permukaan bumi dapat dibedakan menjadi wilayah formal dan wilayah fungsional.

Pewilayahan atau regionalisasi di dalam geografi adalah suatu upaya mengelompokkan atau mengklasifikasikan unsur-unsur yang sama. Pembuatan suatu region ialah menyederhanakan wilayah tersebut dengan cara menyatukan tempat-tempat yang memiliki kesamaan atau kedekatan tersebut menjadi satu kelompok.

Pewilayahan berdasarkan fenomena geografis adalah pewilayahan yang didasarkan pada gejala atau objek geografi misalnya berdasarkan atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer.

Menentukan batas wilayah pertumbuhan dapat dilakukan dengan cara mengkaji pertumbuhan ekonomi, laju pertumbuhan penduduk, perkembangan pemukiman, tingkat pendidikan dan pengetahuan, penggunaan teknologi, dan budaya masyarakat.

Pusat pertumbuhan dapat diartikan sebagai suatu wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat, sehingga dijadikan sebagai pusat pembangunan yang dapat mempengaruhi kawasan-kawasan lain di sekitarnya.

Melalui pengembangan kawasan pusat-pusat pertumbuhan ini, diharapkan terjadi suatu proses interaksi dengan wilayah di sekitarnya.

Teori mengenai pusat-pusat pertumbuhan antara lain, Teori Tempat yang Sentral (Central Place Theory); Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Poles Theory) disebut juga sebagai teori pusat pertumbuhan (Growth Centres Theory);

Teori pusat pertumbuhan Potential Model; Konsep Agropolitan. Pembangunan di Indonesia dipusatkan di wilayah-wilayah tertentu yang diperkirakan sebagai pusat pertumbuhan yang diperkirakan sebagai kawasan sentral yang mampu menarik daerah-daerah di sekitarnya dengan harapan dapat mengalirkan proses pembangunan ke wilayah-wilayah sekitarnya, sehingga pemerataan pembangunan dapat terjadi ke seluruh pelosok wilayah negeri secara menyeluruh.

Bab 7 Negara Maju Dan Negara Berkembang

Sebagian negara mengalami perkembangan yang pesat dalam pembangunannya, sebagian lainnya relatif terlambat. Dasar ukuran yang digunakan dalam pengelompokan negara-negara, pada umumnya ialah tingkat ekonomi atau ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sektor industri memegang peranan penting dalam pengelompokan negara-negara, sebagaimana menurut WW Rostow yang membagi atas 5 tingkatan, yaitu: The traditional society, the preconditions for take off, take off, the drive to maturity, and the age of high mass consumption.

Beberapa negara yang masuk dalam kelompok negara maju antara lain: Amerika Serikat dan Kanada (Amerika); Inggris, Jerman, Perancis dan hampir semua negara di Eropa Barat, Swedia, Norwegia, Denmark, Italia (Eropa); Jepang (Asia); dan Australia. Negara-negara dalam kelompok negara berkembang pada negara-negara di Asia termasuk Indonesia, Afrika, dan Amerika Latin.

Nampak perkembangan suatu wilayah atau kota sangatlah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor alamiah maupun faktor sosial wilayah yang bersangkutan. Unsur lokasi, keadaan alam, iklim dan kandungan sumber daya alam maupun keadaan sosial budaya penduduk dan kebijakan pemerintah di dalam penentuan pola pembangunan wilayah, akan sangat mempengaruhi perkembangan suatu wilayah atau suatu kota.

Model pengembangan atau pembangunan wilayah di negara-negara maju dilakukan dengan sistem desentralisasi. Terdapat lima macam pola dan bentuk kota dalam pengembangan wilayah yaitu pola metropolis menyebar (dispersed), pola metropolis galaktika, pola metropolis memusat, pola metropolis bintang, dan pola metropolis cincin. Di negara-negara berkembang juga terjadi pengembangan wilayah cenderung diarahkan kepada upaya penanggulangan kemiskinan penduduk dan memajukan kegiatan-kegiatan atau aktivitas kota.

Pola pengembangan wilayah di Indonesia menitikberatkan pada pembangunan prasarana transportasi. Karena sarana dan prasarana transportasi merupakan alat penghubung bagi terciptanya berbagai upaya pembangunan wilayah yang harus dilakukan di negeri ini. Bila kendala perhubungan tidak teratasi, maka itu sama artinya pengembangan wilayah tidak dapat dilakukan.

Semoga dengan disusunnya rangkuman materi pelajaran Geografi kelas 12 SMA seperti diatas  dapat memudahkan kita memahami materi Geografi di kelas 12 SMA.

Pustaka Materi adalah website dengan informasi pendidikan untuk siswa dan guru dalam bentuk materi pelajaran, Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat didownload gratis, soal latihan, soal ujian dan peraturan tentang pendidikan.

Anda dapat menghubungi atau berpartisipasi dengan kami
Pustaka Materi