Teori-Teori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Thursday, December 10th, 2015 - Info Pendidikan

Teori-Teori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Beberapa teori yang mendasari pelaksanaan pendidikan anak usia dini antara lain:Teori Pendidikan Anak Usia Dini

1. Howard Gardner (1943)

Teori Howard Gardner muncul dalam jaman kita hidup sekarang ini. Ia mengatakan bahwa pada hakekatnya setiap anak adalah anak yang cerdas. Kecerdasan bukan hanya dipandang dari factor IQ saja, tetapi juga ada kecerdasan-kecerdasan lain yang akan mengantarkan anak pada kesuksesan.

Macam-macam kecerdasan menurut Gardner adalah :

  1. Kecerdasan bahasa : kecerdasan anak dalam mengelola kata-kata.
  2. Kecerdasan logika : kecerdasan dalam bidang angka dan alasan logis.
  3. Kecerdasan musik : kecerdasan dalam bidang musik.
  4. Kecerdasan gerak (kinestetik) : kecerdasan dalam mengolah anggota tubuh.
  5. Kecerdasan gambar (spasial): kecerdasan anak dalam permainan garis, warna, dan ruang.
  6. Kecerdasan diri (intrapersonal): kecerdasan dalam bidang pengenalan terhadap diri sendiri.
  7. Kecerdasan bergaul (interpersonal): kecerdasan dalam membina hubungan dengan orang lain.
  8. Kecerdasan alami (naturalist): kecerdasan yang berhubungan dengan alam.
  9. Kecerdasan rohani (spiritual): kecerdasan mengolah rohani.

Jadi, Gardner memandang bahwa setiap anak memiliki peluang untuk belajar dengan gaya masing-msing anak.

2. John Bowlby (1907 – 1990).

John Bowlby terkenal sebagai salah seorang pelopor teori Ethologi. Dia lahir di London. Dia merupakan seorang guru di Proggessive Schools for Children, yang memberi perawatan medis dan latihan psiko-analitik. Teori Bowlby yang tekenal adalah tentang teori attachment. Dia mengemukakan perkembangan attachment bayi. Attachment yang dimaksud adalah keteraturan, kesenangan, keinginan untuk melekat terhadap orang-orang yang diakrabi. Salah satu attachment bayi adalah menangis ketika ditinggalkan pengasuhnya dan tersenyum ketika pengasuhnya datang atau memberi makan. Menurut Bowlby meskipun respon sosial bayi pada awalnya tanpa diskrimisasi. Anak yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh hubungan sosial dengan orang lain akan mempengaruhi perkembangan sosial anak. Bila anak kehilangan kesempatan untuk megembangkan hubungan anak dengan lingkugan sosial selama periode bayi, maka mungkin hubungan sosial anak akan menjadi menyimpang seletah dewasa. Bayi yang kehilangan kontak yang memuaskan dengan manusia lain mereka akan kesulitan untuk mengembangkan tingah laku sosial yang sesuai. Ada dua ketekunan pada usia dini yaitu “separate enciety” dan stager anciety”. anak-anak yang sering ditinggal, petama anak akan menangis dan menolak semua bentuk pengasuhan, berkembang melalui periode despair; menjadi quiet, menarik diri dan pasif. Pengasuh hendaknya memiliki pola yang tidak berbeda dengan orangtuanya. Orangtua harus memberikan perhatian, kasih sayang dan perasaan aman pada bayi agar anak berkembang dengan baik.

3. Jean Piaget (1907 – 1980)

Piaget merumuskan tahap perkembangan intelektual anak dalam 3 tahap yaitu ;

  1. Tahap sensori motorik (usia 0 – 2 tahun). Pada tahap ini anak berpikir adalah memahami diri dan lingkungannya melalui kesan-kesan sensori dan gerakangerakan motoriknya. Pikiran anak berkembang dengan pesat, berpikir anak belum sistematis, sering meloncat-loncat dari satu ide ke ide lain, dan belum logis, salah satu simbul yang digunakan adalah bahasa, sehingga bahasa anak berkemang dengan pesat, Mereka mulai mengunakan simbol ketika mereka menggunakan objek atau tindakan untuk menggambarkan sesuatu benda yang hilang (Ginsburg dan Opper, dalam Crain, 1992). Anak berpikir melalui kesan-kesan yang diterima sensorinya, seperti melalui melihat, mendengar, meraba, mencium, mengecap, membau dan melalui gerakan-gerakan yang dilakukan. Untuk mengembangkan berpikir anak dalam periode berpikir sensori motorik adalah memberikan stimulasi melalui sensori-sensori anak. Misalnya untuk mengembangkan berpikir anak melalui indera penglihatan adalah memperlihatkan kepada bayi berbagai warna, berbagai bentuk, berbagai pola/ukuran, benda yang bergerak dan memberikan kebebasan untuk bergerak, menjangkau, memanipulasi benda, dll.;
  2. Tahap preoperational konkret (usia 2 – 6 tahun). Pada usia ini anak menurut Piaget sudah mulai berpikir secara mental meskipun belum sempurna. Pada usia ini hayalan masih mendominasi pikiran anak, anak sering menghayalkan sesuatu sebagaimana kenyataan. Ciri utama berfikir anak usia dini adalah berpikir egosentris, kemampuan merekam tinggi, rasa ingin tahu tinggi, sering melakukan dusta hayal, animistik, anak sudah dapat menggunakan simbol-simbol sedehana untuk menyatakan perasaan dan pikirannya. Ide-ide Piaget ini memiliki implikasi dalam pendidikan anak usia dini, khususnya dalam pengembangan berpikir anak usia dini. Pertama, menekankan bahwa anak adalah individu yang mampu membangun pengalamannya sendiri, oleh karena itu proses pendampingan harus berorientasi pada anak, melalui proses eksplorasi, intervensi dan membangun pengalaman anak sendiri melalui aktivitas bebas. Pendidikan anak usia dini diharapkan tidak memperbaiki pengalaman anak, tetapi menyediakan lingkungan, pengalaman dan material belajar yang diminati dan menantang anak untuk melakukan eksplorasi pengalaman anak dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Pentingnya penekanan pemberian kesempatan pengajaran yang mempertimbangkan tingkat perkembangan anak. Menurut Piaget belajar untuk anak harus melalui proses aktif menemukan dan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pendidikan dimulai melalui anak belajar melalui pengetahuan langsung dan interkasi sosial.

4. Lev Vigotsky (1896 – 1934)

Vigotsky adalah seorang ahli perkembangan berkebangsaan Rusia. Teorinya disebut dengan teori belajar sosial. Vigotsky mengemukakan bahwa perkembangan manusia melalui interaksi sosial yang memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif anak. Menurtut Vigotsky anak belajar melalui dua tahapan yaitu interkasi dengan orang lain, orang tua, saudara, teman sebaya, guru dan belajar secara individual melalui mengintegrasikan segala sesuatu yang dipelajari dari orang lain dalam struktur kognitifnya. Vigotsky mengemukakan tiga perlengkapan manusia yaitu tools of the minds, zone of proximal development dan scoffolding.Tools adalah alat untuk membantu mempermudah kerja, seperti pahat, mesin potong, gergaji, pisau, mesin pangkas, adalah alat yang memudahkan kerja fisik manusia. Menurut Vigotsky kerja mental juga akan lebih mudah jika ada alat pendukungnya yang ia sebut sebagai tools of the minds yang berfungsi untuk mempermudah anak memahami suatu fenomena, memecahkan masalah, mengingat, dan untuk berfikir. Misalnya, kelereng, buah-buahan, lidi, bijibijian adalah sejenis alat yang dapat membantu anak memahami konsep bilangan. Melalui alat ini akan dapat menghubungkan benda dengan bahasa simbolik, seperti konsep bilangan satu, dua, tiga, empat, lima, dan enam. Konsep zone of proximal development adalah suatu konsep tetang hubungan antara belajar dengan perkembangan anak. Istilah zone menggambarkan bahwa perkembangan merupakan suatu daerah atau medan. Perluasan suatu medan perkembangan ditentukan oleh bantuan orang yang lebih ahli yang disebut scaffolding. Scaffolling adalah bantuan yang diperoleh anak dari seseorang yang lebih mampu, lebih mengetahui, dan lebih terampil dalam ZPD untuk membantu anak agar memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi (Brunner dan Ross, 1976). Bentuk bantuan misalnya menyediakan objek, menunjukan bagian objek, mnggunakan gambar, menunjukan cara menggunakan sesuatu atau memberikan alat bantu pengukuran.

Teori belajar Vigotsky memiliki empat prinsip umum yaitu:

  1. anak mengkonstruksi pengetahuan akan lebih mudah bila tersedia tools of minds yang lebih kaya dan bervariasi,
  2. belajar terjadi dalam kontek sosial. Oleh karena itu, untuk membantu mengoptimalkan perkembangan anak, dia harus dilibatkan sebanyak mungkin dalam interaksi sosial dengan sebaya, guru, orang tua dan orang dewasa lainnya,
  3. belajar mempengaruhi perkembangan mental, dan
  4. bahasa memegang peranan penting dalam membantu perkembangan mental anak. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan perkembangan berpikir anak, pengembangan bahasa atau literasi anak harus pula dioptimalkan melalui melibatkan anak dalam aktivitas literasi di rumah, di lembaga PAUD dan di masyarakat.

Vigotsky menyakini bahwa anak memiliki kemampuan secara aktif membagun pengetahuan melalui interaksi sosial di lingkungannya. Kontek sosial mempengaruhi perkembangan berpikir, sikap dan tingkah laku anak. Kontek sosial adalah meliputi seluruh lingkungan dimana anak tinggal yang secara langsung atau pun tidak langsung dipengaruhi oleh sistem budaya yang berlaku dalam masyarakat dimana anak hidup.

Vogotsky mengemukakan tiga konteks sosial yaitu :

  1. interaktif, orang lain atau teman sebaya yang sedang melakukan interaksi dengan anak,
  2. tingkat struktural yaitu konteks sosial yang memiliki struktur seperti anggota keluarga, lembaga PAUD, dan masyarakat sekitar, dan
  3. tingkat struktur sosial yang meliputi keseluruhan berbagai hasil kreasi anggota masyarakat.

Teori-teori pendidikan anak usia dini (PAUD) diatas menunjukan pentingnya memberikan pendidikan kepada anak di usia dini.

Pustaka Materi adalah website dengan informasi pendidikan untuk siswa dan guru dalam bentuk materi pelajaran, Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat didownload gratis, soal latihan, soal ujian dan peraturan tentang pendidikan.

Anda dapat menghubungi atau berpartisipasi dengan kami
Pustaka Materi